
Buronan Nomor Wahid
Berbagai keberhasilan Yahya Ayyasy dalam banyak aksi, membuat pasukan keamanan Israel baik militer atau kepolisian tercabik-cabik. Ini yang membuat Sang Muhandis sebagai buron Israel nomor wahid. Mereka pun akhirnya memutuskan memburu Sang Mujahid selama hampir lima tahun. Aparat keamanan Israel mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap sang buron nomor wahid ini. Yaitu dengan membentuk Pasukan Khusus gabungan seluruh pasukan keamanan Israel antara militer, polisi dan intelejen. Pasukan khusus ini bertugas mengawasi setiap gerak-gerik Yahya Ayyasy. Untuk mengefektifkan system pengawasan terhadap, Pasukan Khusus ini akhirnya membentuk beberapa divisi yang dengan tugas masing-masing. Divisi satu bertugas mengkaji kepribadian dan kebiasaan hidup Yahya Ayyasy, divisi dua bertugas mengawasi seluruh teman-teman akrabnya dan divisi tiga bertugas mengawasi Yahya Ayyasy di setiap sudut kota, kamp pengungsian, hutan, gunung dan gua. Mereka ditugaskan mencari berita keberadaan Yahya Ayyasy selama dua puluh empat jam tanpa henti. Dengan kesigapan pasukan khusus itu, sehingga tidak satu sudutpun dari kota Tepi Barat yang lepas dari mata-mata pasukan khusus, untuk mencari Sang Pejuang legendaries, Muhandis Yahya Ayyasy.
Dalam banyak kesempatan Allah SWT telah menyelamatkan nyawa Yahya Ayyasy dari ancaman musuh-musuh Islam. Banyak kasus pengepungan tentara Israel yang gagal karena Ayyasy sudah mengetahuinya hanya beberapa menit sebelum mereka sampai ke tempat tujuan. Seperti kasus penyergapan yang terjadi di kampung Kashobah di kota Nablus dan di kampung Syeikh Ridhwan di Gaza City, yang mengakibatkan dua teman karib Sang Muhandis, Kamal Kahil dan Ibrahim Da’as gugur syahid.
Waktu penyergapan
Selama hampir empat tahun Yishak Rabin sibuk membuat rencana penangkapan terhadap Yahya Ayyasy, sampai-sampai ia posisikan Sang Muhandis sebagai target utama operasi penangkapan yang digelar militer Israel. Namun yang kemudian membuat semua kalangan terhenyak, baik internasional maupun regional Palestina, ketika tiba-tiba ia mati dibunuh seorang Yahudi radikal, di saat ia serius sibuk mempersiapkan penangkapan Yahya Ayyasy. Ia terbunuh sebelum pasukan intelejen Israel mampu menangkap Sang Muhandis. Dengan insiden terbunuhnya Yishak Rabin, berarti itu pukulan telak yang mencoreng kredibilitas lembaga keamanan Israel yang selama ini menjadi kebanggaan warga Yahudi. Mereka selama ini meyakini, bahwa intelijen Israel selalu berhasil mengungkap kejahatan sebelum terjadi.
Dinas intelijen yang selalu disebut-sebut sebagai yang paling bonafid di tingkat internasional, karena bisa mengungkap sebuah masalah dengan kemampuan meminimalisir perangkat yang digunakan dan kecepatan waktu yang tidak bisa disaingi oleh lembaga intelejen manapun, ternyata hanya isapan jempol belaka. Faktanya, mereka tidak bisa menjaga "bos" mereka sendiri dari telikung para pembunuh. Insiden itu sendiri telah membuat pamor lembaga intelejen Israel jatuh melorot tajam. Karena terbukti, lembaga itu tidak bisa berbuat apapun untuk negeranya. Bahkan menangkap seorang insinyur kampungan saja tidak mampu, terlebih menjaga Perdana Menteri mereka dari pembunuh. Dan ini membuat para petinggi militer Israel semakin kikuk menghadapi para pejuang Palestina dan tekanan dari warga Yahudi.
Sebagai solusi awal untuk mengembalikan pamor intelejen, keamanan dan militer Israel agar tidak hancur, mereka dituntut harus dapat melakukan sesuatu yang monumental di depan rakyat Israel. Tidak ada jalan lain bagi Shimon Peres, pengganti Rabin, menghabisi Yahya Ayyasy dan mencopot Kepala intelejen Syabak, Jendral Karemy Gilon. Itulah yang menjadi tuntutan kelompok-kelompok Yahudi, pencopotan Gilon sendiri baru dilakukan dua hari setelah penangkapan dan pembunuhan Sang Muhandis.
Pembunuhan Yahya Ayyasy sendiri, dalam prediksi sebagian besar kalangan militer dan pejabat pemerintahan Israel, menjadi satu-satunya solusi untuk mengembalikan pamor mereka yang hilang di tengah masyrakat Yahudi Internasional dan Israel akibat terbunuhnya Yitzaq Rabin. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menghabisi Yahya Ayyasy dengan berbagai strategi yang mereka susun secara apik. Para pejabat militer dan intelejen Israel ingin membuktikan diri mereka tetap yang terbaik dan berhak mendapat peghargaan dari warganya. Mereka juga ingin membuktikan bahwa pemerintahan sekarang mampu membalas, aksi-aksi musuh yang telah banyak menelan korban warga Yahudi. Karenanya, para pejabat militer Israel berusaha sekuat tenaga menjadikan Yahya Ayyasy sebagai Common Enemy warga Yahudi dan pemerintah secara bersamaan. Dan bahwasannya, dengan membunuh Yahya Ayyasy berarti dendam mereka sudah terbalaskan. Untuk lebih meyakinkan rakyatnya, militer Israel mengawali dengan membunuh banyak aktifis jihad dan tokoh pejuang Palestina seperti Fathy Syaqoqy, Hany Abid, Kamal Kahil, Ibrahim Annafar dan Mahmud Khawaba.
Selain itu sebagian kalangan militer dan intelejen Israel meyakini, selama ini Yahya Ayyasy sudah menjadi ‘’maskot’’ perlawanan dan jihad di Palestina. Ia sudah menjadi idola dan figure yang sangat berpengaruh bagi seluruh rakyat Palestina, baik dari gerakan Hamas ataupun dari gerakan perlawanan jihad lainnya. Sehingga dengan membunuhnya, berarti pemerintah Israel bisa menghentikan arus deras hawa jihad dan perjuangan yang sedang menggelora dan berkobar dalam dada setiap pemuda Palestina. Juga bisa meredam perlawanan total yang dilakukan pejuang Palestina yang selama ini banyak merepotkan pemerintah dan militer Israel. Mereka juga ingin memberi pelajaran kepada rakyat Palestina, bahwa perlawanan dan perjuangan mereka sudah berakhir. Bahwa rakyat Palestina harus realistis, karena tidak ada pilihan bagi mereka kecuali bekerja sama dengan Israel untuk menggalang perdamaian. Itulah ‘’khayalan" di benak dan otak para penjajah Israel.
Namun faktanya – walaupun pemerintah Israel berusaha meyakinkan semua pihak bahwa membunuh Yahya Ayyasy berarti menghentikan jihad – banyak kalangan dalam masyrakat Yahudi sendiri yang meragukan dan bahkan tidak percaya sama sekali, bahwa pembunuhan Yahya Ayyasy bisa menghentikan jihad dan perlawanan rakyat Palestina, serta mampu menghentikan perlawanan bersenjata yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan dan gerakan perlawanan Palestina.
Di kalangan masyrakat Palestina sendiri, pembunuhan Sang Muhandis – minimal bagi Hamas – telah memberi peluang untuk melakukan evaluasi bagi seluruh aktifitas jihad yang dilakukan selama ini, juga perjalanan Intifadhoh yang terbukti efektif membuat pemerintahan Zionis kalang kabut. Dari evaluasi itu, Hamas bisa menghitung untung rugi dari insiden syhahidnya Sang Muhandis. Karena, walaupun kehilangan salah seorang pejuang handalnya, sesungguhnya gerakan Hamas mendapatkan keuntungan dari insiden itu. Karena senyatanya pemenang dari pertarungan adu strategi tersebut adalah Hamas dan rakyat Palestina.
Sementara Israel, yang memiliki kelengkapan persenjataan adalah pihak yang kalah. Realitanya, mereka tidak bisa menangkap Sang Muhandis di luar Jalur Gaza. Padahal mereka sudah mengusirnya dari Jalur Gaza sejak empat tahun sebelumnya. Israel baru bisa menangkap dan membunuhnya, justru ketika Sang Muhandis berhasil menerobos penjagaan ketat militer dan polisi Israel di setiap sudut dan perbatasan Gaza City. Dan faktanya, selama dalam jangka waktu yang sangat singkat – sekitar 10 hari sebelum akhirnya ia tertangkap – Yahya Ayyasy berhasil mengkoordinir anak buahnya untuk melakukan 4 aksi bom syahadah (mati syahid) beruntun yang menewaskan puluhan orang Yahudi. Ini merupakan keberhasilan Hamas dan Yahya Ayyasy pada khususnya. Karena, meskipun situasi dan kondisi keamanan juga penjagaan super ketat dilakukan oleh tentara Israel, ternyata mereka berhasil menjalankan aksinya tanpa bisa dicegah oleh Israel.
Jum’at kelabu
Tanggal 10 Sya’ban 1416 H bertepatan dengan tanggal 5 Januari 1996 M, jatuh pada hari Jum’at. Hari itu memang beda dengan hari Jum’at lainnya, ketika televisi Zionis di seantero Israel mengumumkan Yahya Ayyasy sudah terbunuh ditangan tentara Israel dalam sebuah operasi penangkapan atas dirinya. Seluruh tanah Palestina seakan bergetar, terlebih ketika berita itu menyebar ke setiap telinga para pecinta jihad. Getaran syahidnya Sang Muhandis telah membuat seluruh rakyat Palestina bersimpuh lumpuh dan diselimuti rasa sedih yang tiada tara. Antara perasaan ragu dan tidak percaya, berkecamuk menjadi satu tanpa bisa dihalau. Kesedihan itupun menjadi kenyataan, ketika akhirnya Hamas – tempat Yahya Ayyasy bernaung – mengungumkan secara resmi kesyahidan Sang Mujahid, Muhandis Yahya Abdul Lathif Syati Ayyasy pergi untuk selamanya, menyusul meramaikan barisan syhada’ Palestina.
Setelah malang melintang di jalan jihad, akhirnya Yahya Ayyasy mendapatkan apa yang ia cita-citakan, syahadah (mati syahid). Nampaknya telah tiba saatnya bagi Sang Mujahid menghadap Rabbnya.
Pada Jum’at pagi tanggal 5 Januari 1996, tangan-tangan kotor Zionis Israel merenggut nyawa sang mujahid. Setelah mereka menggunakan berbagai cara dan strategi tingkat tinggi, serta menggunakan teknologi canggih yang belum pernah digunakan oleh intelijen negara manapun. Yahya Ayyasy akhirnya gugur syahid setelah telepon genggam, milik salah satu temannya, yang ia gunakan ternyata sudah dipasang peledak oleh intelijen Israel, yang bekerja sama dengan aparat keamanan Otoritas Palestina.
Sesungguhnya Gerakan Perlawanan Islam Hamas – dengan syahidnya Sang Muhandis – yakin bahwa gerakan jihad dan perjuangan mengusir penjajah Israel tidak akan pernah berhenti. Perjuangan bangsa Palestina akan terus berjalan sampai cita-cita kemerdekaan tercapai dan hak-hak bangsa Palestina serta umat Islam dikembalikan. Sampai orang-orang Yahudi terusir dari Palestina. Itulah perjalanan jihad yang tidak ada pilihan lain kecuali dua hal; menang atau mati syahid!!
Seluruh isi Palestina menangis, deraian air membanjiri jalan-jalan Jalur Gaza. Seluruh seluruh penduduk Gaza, Nablus, Tulkarm dan Hebron bingung dibuatnya. Jum’at malam kelabu pun berlalu dengan sangat berat untuk dilewati oleh gunung-gunung, bukit-bukit dan seluruh manusia yang cinta akan jihad dan perjuangan. Dan ketika ombak-ombak berhenti berdesir menunggu kedatangan Sang Mujahid, tiba-tiba segerombolan orang berlomba berlari menuju rumah Sang Muhandis dibesarkan. Mereka memeluk penuh rindu, seraya bersumpah akan melakukan aksi balasan atas kebiadaban yang dipentaskan tentara Zionis Israel. Mereka begitu yakin dengan do’a ibunda Sang Muhandis, yang selalu mengatakan dalam dukanya, Rabbi wa Qolbi Rodhiina ‘Alaik: hatiku dan Tuhanku, telah rela melepaskan kepergianmua."
Sekiranya mereka boleh meminta dan mendapat kesempatan, pastilah setiap orang yang berta’ziah pada waktu itu ingin sekali menjadi orang yang menguburkan jenazah Sang Mujahid. Atau minimal mendapat kesempatan untuk menyaksikan wajah Sang Mujahid. Atau sekedar meraba telapak tangannya supaya bisa belajar bagaimana cara memukul musuh yang baik, serta bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini.
Saat itu, setiap orang mendadak menjadi jelmaan Yahya Ayyasy, dan Yahya Ayyasy sudah menjelma dalam jasad setiap orang yang datang melayatnya. Keagungan syahadahnya (mati syahid) telah membuat rakyat Palestina tidak rela hanya menjadikannya sebagai warga kampung Rafat saja, atau hanya menjadi "anak" Hamas semata. Karena kehidupan dan seluruh aktifitasnya, ia korbankan untuk seluruh tanah dan bangsa Palestina. Maka kesyahidannya pun harus menjadi milik seluruh rakyat Palestina. Dengan kesyahidan Sang Muhandis, rakyat Palestina diberi secercah cahaya harapan dan cita. Ia bagaikan halilintar yang ketika berhenti menggelegar, bukanlah pertanda berakhirnya hujan namun sebaliknya, hujan lebat nan deras baru dimulai. Begitulah Yahya Ayyasy, kesyahidan bukanlah akhir perjuangannya. Namun sebaliknya, kehidupan jihad di Palestina telah lahir kembali dengan semangat dan ruh baru.
Respon optimal yang diperlihatkan rakyat Palestina yang muncul akibat kesyahidan Yahya Ayyasy, mengindikasikan beberapa hal penting:
Pertama, merupakan polling spontan dengan hasil bahwa pilihan jihad dan perlawanan masih terus menggelora di dalam hati dan jiwa rakyat Palestina. Kedua, rakyat Palestina juga memastikan bahwa siapa saja yang berjuang untuk tanah dan bangsa Palestina dengan ikhlas dan bertanggungjawab, seperti Imad Aqil, Yahya Ayyasy, Iwadh Salma, Usamah Halas dan juga yang lainnya, akan mendapatkan tempat khusus di hati umat Islam dan rakyat Palestina. Itu dapat disaksikan dalam proses penguburan jenazah Imad Aqil dan Yahya Ayyasy. Ketika ratusan ribu rakyat mengiringi kepergianya.
Ketiga, bahwa rasa geram yang membara dari setiap orang yang mengantarkan jenazah Yahya Ayyasy, mengindikasikan rasa kemarahan dan kongesti rakyat Palestina terhadap musuh Zionis. Karena dengan Intifadhoh Al Aqsha, seluruh kebohongan dari kesepakatan dalam perjanjian dengan zionis Yahudi terungkap lugas.
Berbagai keberhasilan Yahya Ayyasy dalam banyak aksi, membuat pasukan keamanan Israel baik militer atau kepolisian tercabik-cabik. Ini yang membuat Sang Muhandis sebagai buron Israel nomor wahid. Mereka pun akhirnya memutuskan memburu Sang Mujahid selama hampir lima tahun. Aparat keamanan Israel mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menangkap sang buron nomor wahid ini. Yaitu dengan membentuk Pasukan Khusus gabungan seluruh pasukan keamanan Israel antara militer, polisi dan intelejen. Pasukan khusus ini bertugas mengawasi setiap gerak-gerik Yahya Ayyasy. Untuk mengefektifkan system pengawasan terhadap, Pasukan Khusus ini akhirnya membentuk beberapa divisi yang dengan tugas masing-masing. Divisi satu bertugas mengkaji kepribadian dan kebiasaan hidup Yahya Ayyasy, divisi dua bertugas mengawasi seluruh teman-teman akrabnya dan divisi tiga bertugas mengawasi Yahya Ayyasy di setiap sudut kota, kamp pengungsian, hutan, gunung dan gua. Mereka ditugaskan mencari berita keberadaan Yahya Ayyasy selama dua puluh empat jam tanpa henti. Dengan kesigapan pasukan khusus itu, sehingga tidak satu sudutpun dari kota Tepi Barat yang lepas dari mata-mata pasukan khusus, untuk mencari Sang Pejuang legendaries, Muhandis Yahya Ayyasy.
Dalam banyak kesempatan Allah SWT telah menyelamatkan nyawa Yahya Ayyasy dari ancaman musuh-musuh Islam. Banyak kasus pengepungan tentara Israel yang gagal karena Ayyasy sudah mengetahuinya hanya beberapa menit sebelum mereka sampai ke tempat tujuan. Seperti kasus penyergapan yang terjadi di kampung Kashobah di kota Nablus dan di kampung Syeikh Ridhwan di Gaza City, yang mengakibatkan dua teman karib Sang Muhandis, Kamal Kahil dan Ibrahim Da’as gugur syahid.
Waktu penyergapan
Selama hampir empat tahun Yishak Rabin sibuk membuat rencana penangkapan terhadap Yahya Ayyasy, sampai-sampai ia posisikan Sang Muhandis sebagai target utama operasi penangkapan yang digelar militer Israel. Namun yang kemudian membuat semua kalangan terhenyak, baik internasional maupun regional Palestina, ketika tiba-tiba ia mati dibunuh seorang Yahudi radikal, di saat ia serius sibuk mempersiapkan penangkapan Yahya Ayyasy. Ia terbunuh sebelum pasukan intelejen Israel mampu menangkap Sang Muhandis. Dengan insiden terbunuhnya Yishak Rabin, berarti itu pukulan telak yang mencoreng kredibilitas lembaga keamanan Israel yang selama ini menjadi kebanggaan warga Yahudi. Mereka selama ini meyakini, bahwa intelijen Israel selalu berhasil mengungkap kejahatan sebelum terjadi.
Dinas intelijen yang selalu disebut-sebut sebagai yang paling bonafid di tingkat internasional, karena bisa mengungkap sebuah masalah dengan kemampuan meminimalisir perangkat yang digunakan dan kecepatan waktu yang tidak bisa disaingi oleh lembaga intelejen manapun, ternyata hanya isapan jempol belaka. Faktanya, mereka tidak bisa menjaga "bos" mereka sendiri dari telikung para pembunuh. Insiden itu sendiri telah membuat pamor lembaga intelejen Israel jatuh melorot tajam. Karena terbukti, lembaga itu tidak bisa berbuat apapun untuk negeranya. Bahkan menangkap seorang insinyur kampungan saja tidak mampu, terlebih menjaga Perdana Menteri mereka dari pembunuh. Dan ini membuat para petinggi militer Israel semakin kikuk menghadapi para pejuang Palestina dan tekanan dari warga Yahudi.
Sebagai solusi awal untuk mengembalikan pamor intelejen, keamanan dan militer Israel agar tidak hancur, mereka dituntut harus dapat melakukan sesuatu yang monumental di depan rakyat Israel. Tidak ada jalan lain bagi Shimon Peres, pengganti Rabin, menghabisi Yahya Ayyasy dan mencopot Kepala intelejen Syabak, Jendral Karemy Gilon. Itulah yang menjadi tuntutan kelompok-kelompok Yahudi, pencopotan Gilon sendiri baru dilakukan dua hari setelah penangkapan dan pembunuhan Sang Muhandis.
Pembunuhan Yahya Ayyasy sendiri, dalam prediksi sebagian besar kalangan militer dan pejabat pemerintahan Israel, menjadi satu-satunya solusi untuk mengembalikan pamor mereka yang hilang di tengah masyrakat Yahudi Internasional dan Israel akibat terbunuhnya Yitzaq Rabin. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk menghabisi Yahya Ayyasy dengan berbagai strategi yang mereka susun secara apik. Para pejabat militer dan intelejen Israel ingin membuktikan diri mereka tetap yang terbaik dan berhak mendapat peghargaan dari warganya. Mereka juga ingin membuktikan bahwa pemerintahan sekarang mampu membalas, aksi-aksi musuh yang telah banyak menelan korban warga Yahudi. Karenanya, para pejabat militer Israel berusaha sekuat tenaga menjadikan Yahya Ayyasy sebagai Common Enemy warga Yahudi dan pemerintah secara bersamaan. Dan bahwasannya, dengan membunuh Yahya Ayyasy berarti dendam mereka sudah terbalaskan. Untuk lebih meyakinkan rakyatnya, militer Israel mengawali dengan membunuh banyak aktifis jihad dan tokoh pejuang Palestina seperti Fathy Syaqoqy, Hany Abid, Kamal Kahil, Ibrahim Annafar dan Mahmud Khawaba.
Selain itu sebagian kalangan militer dan intelejen Israel meyakini, selama ini Yahya Ayyasy sudah menjadi ‘’maskot’’ perlawanan dan jihad di Palestina. Ia sudah menjadi idola dan figure yang sangat berpengaruh bagi seluruh rakyat Palestina, baik dari gerakan Hamas ataupun dari gerakan perlawanan jihad lainnya. Sehingga dengan membunuhnya, berarti pemerintah Israel bisa menghentikan arus deras hawa jihad dan perjuangan yang sedang menggelora dan berkobar dalam dada setiap pemuda Palestina. Juga bisa meredam perlawanan total yang dilakukan pejuang Palestina yang selama ini banyak merepotkan pemerintah dan militer Israel. Mereka juga ingin memberi pelajaran kepada rakyat Palestina, bahwa perlawanan dan perjuangan mereka sudah berakhir. Bahwa rakyat Palestina harus realistis, karena tidak ada pilihan bagi mereka kecuali bekerja sama dengan Israel untuk menggalang perdamaian. Itulah ‘’khayalan" di benak dan otak para penjajah Israel.
Namun faktanya – walaupun pemerintah Israel berusaha meyakinkan semua pihak bahwa membunuh Yahya Ayyasy berarti menghentikan jihad – banyak kalangan dalam masyrakat Yahudi sendiri yang meragukan dan bahkan tidak percaya sama sekali, bahwa pembunuhan Yahya Ayyasy bisa menghentikan jihad dan perlawanan rakyat Palestina, serta mampu menghentikan perlawanan bersenjata yang banyak dilakukan oleh berbagai kalangan dan gerakan perlawanan Palestina.
Di kalangan masyrakat Palestina sendiri, pembunuhan Sang Muhandis – minimal bagi Hamas – telah memberi peluang untuk melakukan evaluasi bagi seluruh aktifitas jihad yang dilakukan selama ini, juga perjalanan Intifadhoh yang terbukti efektif membuat pemerintahan Zionis kalang kabut. Dari evaluasi itu, Hamas bisa menghitung untung rugi dari insiden syhahidnya Sang Muhandis. Karena, walaupun kehilangan salah seorang pejuang handalnya, sesungguhnya gerakan Hamas mendapatkan keuntungan dari insiden itu. Karena senyatanya pemenang dari pertarungan adu strategi tersebut adalah Hamas dan rakyat Palestina.
Sementara Israel, yang memiliki kelengkapan persenjataan adalah pihak yang kalah. Realitanya, mereka tidak bisa menangkap Sang Muhandis di luar Jalur Gaza. Padahal mereka sudah mengusirnya dari Jalur Gaza sejak empat tahun sebelumnya. Israel baru bisa menangkap dan membunuhnya, justru ketika Sang Muhandis berhasil menerobos penjagaan ketat militer dan polisi Israel di setiap sudut dan perbatasan Gaza City. Dan faktanya, selama dalam jangka waktu yang sangat singkat – sekitar 10 hari sebelum akhirnya ia tertangkap – Yahya Ayyasy berhasil mengkoordinir anak buahnya untuk melakukan 4 aksi bom syahadah (mati syahid) beruntun yang menewaskan puluhan orang Yahudi. Ini merupakan keberhasilan Hamas dan Yahya Ayyasy pada khususnya. Karena, meskipun situasi dan kondisi keamanan juga penjagaan super ketat dilakukan oleh tentara Israel, ternyata mereka berhasil menjalankan aksinya tanpa bisa dicegah oleh Israel.
Jum’at kelabu
Tanggal 10 Sya’ban 1416 H bertepatan dengan tanggal 5 Januari 1996 M, jatuh pada hari Jum’at. Hari itu memang beda dengan hari Jum’at lainnya, ketika televisi Zionis di seantero Israel mengumumkan Yahya Ayyasy sudah terbunuh ditangan tentara Israel dalam sebuah operasi penangkapan atas dirinya. Seluruh tanah Palestina seakan bergetar, terlebih ketika berita itu menyebar ke setiap telinga para pecinta jihad. Getaran syahidnya Sang Muhandis telah membuat seluruh rakyat Palestina bersimpuh lumpuh dan diselimuti rasa sedih yang tiada tara. Antara perasaan ragu dan tidak percaya, berkecamuk menjadi satu tanpa bisa dihalau. Kesedihan itupun menjadi kenyataan, ketika akhirnya Hamas – tempat Yahya Ayyasy bernaung – mengungumkan secara resmi kesyahidan Sang Mujahid, Muhandis Yahya Abdul Lathif Syati Ayyasy pergi untuk selamanya, menyusul meramaikan barisan syhada’ Palestina.
Setelah malang melintang di jalan jihad, akhirnya Yahya Ayyasy mendapatkan apa yang ia cita-citakan, syahadah (mati syahid). Nampaknya telah tiba saatnya bagi Sang Mujahid menghadap Rabbnya.
Pada Jum’at pagi tanggal 5 Januari 1996, tangan-tangan kotor Zionis Israel merenggut nyawa sang mujahid. Setelah mereka menggunakan berbagai cara dan strategi tingkat tinggi, serta menggunakan teknologi canggih yang belum pernah digunakan oleh intelijen negara manapun. Yahya Ayyasy akhirnya gugur syahid setelah telepon genggam, milik salah satu temannya, yang ia gunakan ternyata sudah dipasang peledak oleh intelijen Israel, yang bekerja sama dengan aparat keamanan Otoritas Palestina.
Sesungguhnya Gerakan Perlawanan Islam Hamas – dengan syahidnya Sang Muhandis – yakin bahwa gerakan jihad dan perjuangan mengusir penjajah Israel tidak akan pernah berhenti. Perjuangan bangsa Palestina akan terus berjalan sampai cita-cita kemerdekaan tercapai dan hak-hak bangsa Palestina serta umat Islam dikembalikan. Sampai orang-orang Yahudi terusir dari Palestina. Itulah perjalanan jihad yang tidak ada pilihan lain kecuali dua hal; menang atau mati syahid!!
Seluruh isi Palestina menangis, deraian air membanjiri jalan-jalan Jalur Gaza. Seluruh seluruh penduduk Gaza, Nablus, Tulkarm dan Hebron bingung dibuatnya. Jum’at malam kelabu pun berlalu dengan sangat berat untuk dilewati oleh gunung-gunung, bukit-bukit dan seluruh manusia yang cinta akan jihad dan perjuangan. Dan ketika ombak-ombak berhenti berdesir menunggu kedatangan Sang Mujahid, tiba-tiba segerombolan orang berlomba berlari menuju rumah Sang Muhandis dibesarkan. Mereka memeluk penuh rindu, seraya bersumpah akan melakukan aksi balasan atas kebiadaban yang dipentaskan tentara Zionis Israel. Mereka begitu yakin dengan do’a ibunda Sang Muhandis, yang selalu mengatakan dalam dukanya, Rabbi wa Qolbi Rodhiina ‘Alaik: hatiku dan Tuhanku, telah rela melepaskan kepergianmua."
Sekiranya mereka boleh meminta dan mendapat kesempatan, pastilah setiap orang yang berta’ziah pada waktu itu ingin sekali menjadi orang yang menguburkan jenazah Sang Mujahid. Atau minimal mendapat kesempatan untuk menyaksikan wajah Sang Mujahid. Atau sekedar meraba telapak tangannya supaya bisa belajar bagaimana cara memukul musuh yang baik, serta bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini.
Saat itu, setiap orang mendadak menjadi jelmaan Yahya Ayyasy, dan Yahya Ayyasy sudah menjelma dalam jasad setiap orang yang datang melayatnya. Keagungan syahadahnya (mati syahid) telah membuat rakyat Palestina tidak rela hanya menjadikannya sebagai warga kampung Rafat saja, atau hanya menjadi "anak" Hamas semata. Karena kehidupan dan seluruh aktifitasnya, ia korbankan untuk seluruh tanah dan bangsa Palestina. Maka kesyahidannya pun harus menjadi milik seluruh rakyat Palestina. Dengan kesyahidan Sang Muhandis, rakyat Palestina diberi secercah cahaya harapan dan cita. Ia bagaikan halilintar yang ketika berhenti menggelegar, bukanlah pertanda berakhirnya hujan namun sebaliknya, hujan lebat nan deras baru dimulai. Begitulah Yahya Ayyasy, kesyahidan bukanlah akhir perjuangannya. Namun sebaliknya, kehidupan jihad di Palestina telah lahir kembali dengan semangat dan ruh baru.
Respon optimal yang diperlihatkan rakyat Palestina yang muncul akibat kesyahidan Yahya Ayyasy, mengindikasikan beberapa hal penting:
Pertama, merupakan polling spontan dengan hasil bahwa pilihan jihad dan perlawanan masih terus menggelora di dalam hati dan jiwa rakyat Palestina. Kedua, rakyat Palestina juga memastikan bahwa siapa saja yang berjuang untuk tanah dan bangsa Palestina dengan ikhlas dan bertanggungjawab, seperti Imad Aqil, Yahya Ayyasy, Iwadh Salma, Usamah Halas dan juga yang lainnya, akan mendapatkan tempat khusus di hati umat Islam dan rakyat Palestina. Itu dapat disaksikan dalam proses penguburan jenazah Imad Aqil dan Yahya Ayyasy. Ketika ratusan ribu rakyat mengiringi kepergianya.
Ketiga, bahwa rasa geram yang membara dari setiap orang yang mengantarkan jenazah Yahya Ayyasy, mengindikasikan rasa kemarahan dan kongesti rakyat Palestina terhadap musuh Zionis. Karena dengan Intifadhoh Al Aqsha, seluruh kebohongan dari kesepakatan dalam perjanjian dengan zionis Yahudi terungkap lugas.